Senin, 14 Februari 2022

CERPEN : "ULAR HITAM PENYINGKAP KAMU"

 “Aku tersiksa!” erangku sambil mengambil nafas dalam-dalam.

Mataku membelalak melihat sekujur tubuhku telah terbungkus badan ular hitam nan besar. Ular ini sungguh sangat besar. Ia membelitku seperti besarnya pokok batang kelapa yang telah tua.

Aku berkeringat. Nafasku tersengal. Mataku memerah.

“Tuhan apa yang sebenarnya terjadi?” rintihku memelas.

Saking besar dan panjangnya ular hitam ini sampai aku harus mendongak untuk melihat ujung kepalanya.

Herannya, kepala ular itu entah sedang mengamati arah yang lain.

Lemah aku mengeluh,“Apakah ini akhir hidupku? Menjadi santapan ular raksasa? Padahal aku masih muda, setia dengan kejombloannya”.

Sinar-sinar cahaya yang entah datang dari arah mana menyilaukan mataku yang berat untuk kubuka. Kini aku dibawa ke sebuah ruangan putih yang luas. Disana aku hanya bisa terduduk lemas. Dadaku bersyukur kini badan yang tak seberapa berisi ini telah terbebas dari ikatan ular hitam raksasa tadi. entah bagaimana caranya.

Belum juga kengerian itu sirna, badanku seketika terkaget. Tepat di depanku telah terduduk seekor ular kobra berwarna putih mengkilap.

“Ular lagi?” keluhku menahan derita.

Anehnya pula, ular ini hanya bergelung dengan senyapnya. Ia serasa tak memperdulikan aku yang tiba-tiba datang tepat di depannya. Ia tak berniat menyerangku.

“Aku harus waspada! Memang ular itu terkenal dengan hewan yang licik dan bergerak dalam diam, untuk kemudian menerkam dengan kecepatan kilat. Aku tak boleh lengah” aku membatin, mengkhotbahi diriku sendiri.

Aku kemudian mengambil sikap siaga dan berniat untuk berlari.

Keanehan muncul kembali. Tiba-tiba, ruangan itu meregang. Iya, “meregang!”.

Memberikan jarak yang semakin jauh antara aku dengan ular putih itu. Keadaan yang demikian pun tak membuat ular kobra putih itu bergerak. Ular putih itu tetap saja tak mempedulikan melebarnya ruang antara kami berdua.

“Kok.kokk..kokk!” suara kokok ayam di luar mengagetkanku.

“Ternyata hanya mimpi, huft”, kataku sambil mengelap keringat yang mengembun di dahi.

Aku lihat ke arah jendela kusam kamar yang jarang sekali kubersihkan,“matahari telah tinggi”.

Aku beranjak sempoyongan dan kuraih handuk biru yang terjaga di atas kursi.

Setelah menyelesaikan tugas dan mengoreksi jawaban anak-anak, Aku beristirahat sebentar sambil mencari angin segar. Berteduh di bawah kanopi hijau pohon angsana yang tak jauh dari ruang guru memang membuat nyaman.

Iseng, aku scroll media sosial namun rasa penasaran bergelanyut di atas kepala.

“Apa sebenarnya makna mimpiku kemarin malam” renungku.

Sebenarnya mimpi hanya sekedar mimpi. Toh, aku masih hidup juga tak jadi santapan ular hitam besar ataupun ular putih pendiam itu. Tetapi mimpi akan berubah menjadi beban tersendiri jika kita suka sekali menghubung-hubungkannya dengan hal-hal lain, maklum budaya kami-kan begitu. Sesuatu yang lumrah di tengah masyarakat.

Pikiranku kini mengembara. Mengikuti cocokologi mimpi dan realita. Sudah beberapa bulan ini aku menjalin hubungan dengan dua orang perempuan sekaligus. Umurku yang tak lagi muda namun masih betah melajang, sungguh membuat ibuku kebakaran tangan. Rajin sekali beliau mendaftar list dan kemudian menghubungkan seorang demi seorang kepadaku. Sungguhpun telah mempunyai pekerjaan yang dikatakan mapan, aku belum berniat untuk berkomitmen dengan wanita manapun. Hal inilah yang telah membuat ibu dan ayahku apalagi keluarga besar semakin gusar dan meledak mengghibah.

Keluargaku nun jauh disana, terkhusus ibuku menjadi semakin was-was dan khawatir. “Bagaimana mungkin anakku yang telah berkepala tiga belum juga menikah?” mungkin begitu pikir ibuku.

Niatku sebenarnya hanya sederhana saja. Aku tak ingin melukai perasaan siapapun atau disakiti oleh seseorang. Aku percaya bahwa menikah itu tidak mudah. Butuh kesiapan lahir dan batin diantara keduanya. Butuh usaha timbal balik dari keduanya. Dan juga tak lupa, butuh pula petunjuk dari-Nya yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Baiklah demi orang tuaku, Enam bulan sudah aku berusaha menjalin hubungan pertemanan dengan dua perempuan berbeda domisili ini. Semuanya baik. Hanya yang pertama Yuni, orangnya cuek sekali. Sering aku menduga bahwa sebenarnya dia pun tak suka denganku. Wulan, perempuan yang kedua terlalu agresif menurutku. Dia selalu menjatuhiku dengan beragam pesan dan bahkan memaksaku untuk membalas dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya.

Selalu bergentayangan di pikiran, apakah Yuni yang cuek itu tanda bahwa kami hanya main-main saja, dan ia sebenarnya tak suka keluarganya berusaha mendekatkan kami. Apakah Wulan yang super agresif sampai kadang video call dengan segala hal kehebohannya, hanya menjadikanku  sebagai tepat pelarian tercepat saja?.

Sejuknya kanopi hijau angsana membawa Pikiranku semakin jauh menerawang. Apakah mimpi tadi malam adalah petunjuk dari yang Maha Kuasa atas pengaduanku di sepertiga malam-Nya? Apakah itu berarti aku tidak berjodoh, bukan hanya dengan salah satunya tapi tidak berjodoh dengan dua-duanya?. Lamunanku pecah, dentang lonceng di ujung kantor sana menyadarkan.

Hari melangkah ke hari berikutnya, hubunganku dengan Yuni telah semakin hambar. Apalagi setelah aku menyatakan niat serius kepadanya, ia tak bersegera dengan jawaban yang pasti. Tak kunjung mendapat kepastian, akupun dengan berat hati memutuskan untuk tak melanjutkan hubungan perkenalan super serius dengannya.

Ibuku dengan segera mengingatkan agar aku bisa fokus menjalin hubungan dengan perempuan lainnya, Wulan. Terlepas apakah aku masih kaget dengan sikap tak acuhnya Yuni atas niatku padanya.  

Beginilah akhirnya. Siang itu, di tengah aktivitasku yang sedang bercengkrama di rumah tetangga, aku dikejutkan dengan chat Whatsup dari ibuku. Ibuku bercerita bahwa keluarga Wulan telah datang ke rumah kami. Keluarga Wulan tiba-tiba meyakinkan, bahwa kami tak berjodoh. Mereka memutuskan untuk menarik diri dari rencana perjodohan kami. Ibuku hanya bisa memaklumi.

Pesan demi pesan whatsapp dari ibuku berikutnya, semakin menerangkan apa yang sebenarnya terjadi. Keluarga yang dahulu ingin membangun silaturahmi dengan kami, malahan mereka juga yang kemudian mengatakan bahwa kami tak berjodoh, begitu menurut penerawangan kyai entah darimana yang mereka katakan sebagai alasan. Ibuku berusaha menyabarkanku.

Dunia bukanlah bentangan tanah yang sederhana. Kenyataan pahit putus hubungan dengan dua perempuan pun harus aku telan sebagaimana adanya.

Aku hanya bisa berbaring dan makin merenungkan, “apakah ini makna dari mimpiku dahulu?”.

Beberapa bulan kemudian aku mendapat kabar bahwa Yuni, dilarikan keluarganya kepada seorang ustadz untuk diruqyah. Ibuku mengabarkan bahwa ia dirasuki oleh siluman wanita yang datang entah darimana. Dua bulan berikutnya, aku mendapat kabar bahwa Wulan telah menikah dengan mantan kekasihnya. Jangan salahkan aku, jika aku pun menduga bahwa selama ini aku hanya dijadikan pelariannya.

Sekelebat aku menjadi teringat kembali dengan mimpiku yang terlilit ular hitam raksasa dan bertemu dengan ular kobra putih itu. Inikah makna sebenarnya dari mimpi itu? Kenapa harus ular? 


                                                                                             Soa, 15 Februari 2022

Aku Memulai

 Tiupan waktu guliran jam akhirnya ku beranikan diri untuk memulai. 


CERPEN : "ULAR HITAM PENYINGKAP KAMU"

  “Aku tersiksa!” erangku sambil mengambil nafas dalam-dalam. Mataku membelalak melihat sekujur tubuhku telah terbungkus badan ular hitam na...